Jejak Pena yang Kini Menggelitik Hati




Pagi ini, tanpa rencana, aku tiba-tiba membuka sebuah buku lama yang terselip di antara tumpukan barang di rak. Sampulnya lusuh, warnanya sudah mulai pudar, dan di beberapa halamannya ada bekas lipatan yang sepertinya dulu kutandai dengan penuh semangat. Aku meniup debu tipis yang menempel, lalu tanpa ragu membuka halaman pertama.  

Begitu mataku menangkap deretan kata di dalamnya, tawa kecil lolos begitu saja dari bibirku. Tulisan tanganku yang miring, dihiasi coretan-coretan kecil dan hiasan hati di sudut halaman, berisi curhatan yang begitu polos, begitu jujur, dan begitu alay. Aku menggigit bibir, menahan geli saat membaca betapa dramatisnya aku di masa itu.  

"Aku merasa dunia tidak adil. Kenapa aku harus melihat dia setiap hari kalau akhirnya dia nggak pernah melihat aku?"  

Aku terbahak. Astaga, betapa lebay-nya aku dulu! Kubalik halaman demi halaman, menemukan kata-kata yang penuh tanda seru dan huruf kapital berlebihan. Ada puisi-puisi patah hati yang kutulis seolah aku penyair yang memahami cinta sepenuhnya. Ada juga cerpen dengan judul-judul ajaib seperti
"Fansku jadi Pacarku" ,"Kerajaan Maudy di Jaeksar" ,"Joki yang Terhebat Bikin Klepek", 
seakan-akan dunia adalah tempat di mana semua hal bisa terjadi begitu saja.  

Semakin kubaca, semakin aku merasa terseret kembali ke masa itu, masa di mana menulis adalah caraku melarikan diri dari kenyataan. Setiap kata, meskipun kini terasa menggelikan, adalah cerminan dari perasaan yang pernah begitu nyata. Ada cerita yang kutulis karena terinspirasi dari sinetron remaja, ada pula yang lahir dari kekagumanku pada idola. Imajinasi masa kecilku melayang bebas tanpa batas, menciptakan dunia yang kini terasa begitu asing, tapi juga akrab dalam waktu yang bersamaan.  

Aku tertawa, tapi di balik tawa itu ada perasaan lain yang menghangatkan dada. Dulu, aku menulis tanpa beban. Aku tidak peduli apakah ceritaku masuk akal, apakah dialognya terdengar berlebihan, atau apakah alurnya terlalu dramatis. Aku hanya ingin bercerita. Aku menulis dengan hati, bukan dengan logika.  

Sekarang, ketika aku membaca kembali tulisan-tulisan itu, aku menyadari betapa beraninya aku dulu. Aku berani bermimpi, berani menuliskan perasaan, dan berani menciptakan dunia yang hanya aku yang tahu. Mungkin, seiring bertambahnya usia, aku mulai kehilangan keberanian itu. Aku lebih banyak berpikir sebelum menulis, takut dinilai, takut salah, takut tidak sempurna.  

Aku menutup buku itu dengan senyum yang masih tersisa. Hari ini, aku menertawakan tulisanku sendiri, tapi aku juga bersyukur karena di sana ada jejak diri yang dulu. Seorang aku yang pernah begitu bebas, begitu murni, dan begitu percaya bahwa setiap kata yang kutorehkan punya makna.  

Mungkin, di balik kealayan itu, ada sesuatu yang lebih besar, sebuah pengingat bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, tapi juga tentang berani menjadi diri sendiri.

Komentar

Postingan Populer