Kekang yang Menghujam Jiwa
Di dalam rumah yang tak pernah sepi, aku justru merasa sendirian. Dinding-dindingnya seperti memiliki mata yang selalu mengawasiku, membelenggu gerakku, menahan langkahku yang rindu menghirup udara kebebasan. Mereka berkata, “Ini demi kebaikanmu,” namun kebaikan apa yang membuat hati ini begitu gelisah?
Aku bukan burung yang dirawat dengan sangkar emas. Aku manusia, ingin terbang, walau hanya sejenak, ke tempat-tempat yang belum pernah kusentuh. Tapi angin kebebasan itu seolah hanya milik mereka, teman-temanku yang bebas melangkah, tertawa, dan menari di luar sana. Aku hanya bisa menyaksikan mereka dari balik jendela, sembari menghibur diri dengan angan-angan yang perlahan terasa semu.
Hari-hariku berjalan monoton, rutinitas yang itu-itu saja membuatku terasa sesak. Langit di luar tampak begitu cerah, namun di dalam diriku hanya ada mendung yang menggantung. Jika saja aku bisa menikmati dunia tanpa harus terus-menerus memberikan alasan. Jika saja aku bisa berlari tanpa harus memikirkan pertanyaan apa yang akan menyusul setelahnya. Aku tak meminta banyak, hanya ingin tahu seperti apa rasanya menghirup udara tanpa rasa takut.
Menulis adalah pelarianku, raja jenuh yang setia menemani ketika aku tak sanggup lagi menahan gejolak di dalam dada. Dengan pena, aku memberontak. Dengan kertas, aku mengadu. Aku menuangkan segala rasa yang tak bisa kuteriakkan, menganyam kata-kata yang seharusnya menjadi langkah. Namun, kata-kata itu tak pernah cukup untuk menjangkau dunia yang kucita-citakan.
Orang tuaku bukan orang jahat, aku tahu. Mereka hanya mencintaiku dengan cara yang mereka anggap benar. Tapi tidakkah mereka mengerti bahwa cinta yang terlalu erat menggenggam bisa berubah menjadi belenggu? Mereka mengizinkan teman-temanku datang, berbincang di sini, tapi aku tak pernah benar-benar bebas untuk pergi dan merasakan dunia luar. Aku seperti air yang ditahan di dalam wadah, tenang di permukaan, tapi gelisah di kedalaman.
Kadang, ketika batas kesabaranku runtuh, aku nekat keluar. Mencari kebebasan meski hanya sesaat. Beralasan yang tak masuk akal, atau kadang tanpa izin sama sekali. Tapi kebebasan itu tak pernah datang tanpa harga. Setiap kali kembali, aku dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang membuatku merasa seperti seorang tahanan yang baru pulang dari pelarian. “Kenapa? Dengan siapa? Apa yang kau lakukan?” Mereka tidak tahu, setiap langkah yang kuambil dengan berani adalah langkah yang lahir dari hati yang hampir menyerah.
Aku anak tunggal, dan mungkin itulah sebabnya. Mereka takut kehilangan aku, takut jika aku tersesat di dunia yang penuh bahaya. Tapi tidakkah mereka sadar bahwa aku justru tersesat dalam diriku sendiri? Ketika kebebasan menjadi mimpi yang terlalu jauh, apa yang tersisa dari jiwa yang haus untuk hidup?
Aku sering duduk di tepi jendela, memandangi dunia luar dengan hati yang terbakar rindu. Rindu pada hal-hal yang belum pernah kurasakan. Rindu pada kebahagiaan sederhana yang mungkin orang lain anggap biasa. Jika aku bisa berbicara kepada mereka tanpa takut melukai hati, aku akan berkata, “Izinkan aku melangkah. Izinkan aku berbuat salah, karena dari kesalahan aku akan belajar. Aku tak akan pergi jauh, aku hanya ingin tahu seperti apa rasanya menjadi diriku sendiri.”
Namun, hingga keberanian itu tiba, aku hanya bisa bertahan. Menjalani hari dengan apa yang mereka anggap benar. Dan menulis, selalu menulis, karena hanya dalam tulisan aku benar-benar merasa bebas. Kalimat-kalimatku adalah sayap, dan di atas kertas, aku terbang. Di dalam rumah ini, aku terkekang. Tapi di dalam pikiranku, aku menjelajah dunia tanpa batas.
Mewakili suara hati anak tunggal 🫶🏻🫶🏻
BalasHapus