Kematian yang Merayap di Benakku

 Malam-malamku tak pernah benar-benar sunyi. Ada sesuatu yang mengendap di sudut pikiranku, merayap perlahan seperti kabut yang tak kunjung sirna. Kematian. Ia bukan sekadar kata dalam kitab-kitab tua, bukan pula sekadar dongeng yang diceritakan dengan suara lirih. Ia nyata, dan entah bagaimana, ia selalu menemukan jalannya untuk bertamu ke dalam benakku.  

Seperti desir angin yang berbisik di antara celah jendela, ia datang dengan lembut, tetapi menusuk. Berulang kali aku bertanya, apakah mati adalah akhir dari segala beban yang kupikul? Akankah segalanya menjadi lebih ringan jika aku tak lagi ada? Dunia begitu luas, tetapi mengapa rasanya sempit ketika pikiranku dipenuhi bayang-bayang kepergian?  

Aku membayangkan diriku lenyap seperti embun yang menguap di bawah sinar mentari. Tak ada jejak, tak ada sisa. Hanya kekosongan yang menggantung di udara, seakan keberadaanku hanyalah angin yang sesekali berembus, lalu hilang. Lantas, apakah dunia akan berubah tanpaku? Ataukah segalanya tetap sama, berjalan seperti biasa, seolah aku tak pernah menjadi bagian dari apa pun?  

Namun, di antara kabut pekat yang membungkusku, ada sesuatu yang selalu menahan. Seberkas cahaya samar, kecil, nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk mengingatkanku bahwa aku masih di sini. Ada kehangatan dalam genggaman tangan seseorang yang belum ingin kulepas, ada suara yang masih ingin kudengar, ada udara pagi yang masih ingin kuhidu.  

Mungkin, yang kucari bukanlah kematian. Mungkin, aku hanya ingin sesuatu di dalam diriku mati, kesedihan yang mengakar, kelelahan yang menjalar, kehampaan yang kian merajalela. Aku ingin dunia memberi jeda, memberi ruang, agar aku bisa menemukan makna di antara hiruk-pikuk yang membuatku sesak.  

Aku ingin hidup, tetapi bukan sekadar bernapas. Aku ingin merasakan denyut kehidupan yang sesungguhnya, yang tidak hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang menemukan kembali alasan untuk tetap ada. Maka, meski bayangan kematian terus menghantuiku, aku tahu, di suatu tikungan waktu yang belum kutempuh, masih ada sesuatu yang menungguku. Sesuatu yang membuat segala perih ini layak untuk dilalui.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer