Bisikan di Kepala Anak Kecil
Di sudut dunia yang tak banyak dipedulikan, seorang anak kecil duduk dengan kedua tangannya saling meremas. Matanya menatap kosong ke jendela, tapi pikirannya berlarian ke tempat yang jauh, berputar-putar dalam labirin yang hanya bisa ia pahami.
Di dalam kepalanya, ada suara-suara. Bukan teriakan, bukan juga nyanyian, melainkan bisikan halus, tapi tajam.
"Kamu tidak cukup baik."
"Kamu akan gagal."
"Kamu sendirian."
Anak itu menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang tak berbentuk. Bagaimana bisa suara tanpa rupa begitu kuat mencengkeram hatinya? Bagaimana bisa ia merasa lelah, padahal kakinya belum berlari, tangannya belum bertarung?
Maka ia menutup matanya, berusaha melawan. "Aku bisa," bisiknya dalam hati. Tapi suara-suara itu tertawa, menggema di dalam dirinya, mengguncang keyakinan yang masih rapuh.
Ia ingin bertanya, tapi kepada siapa? Dunia di sekelilingnya terlalu bising untuk mendengar suara hati sekecil ini. Semua sibuk berlari, sedangkan ia hanya ingin diam sejenak, menenangkan perangnya sendiri.
Lalu, di tengah keheningan, ia menemukan sesuatu, sebutir keberanian yang terselip di antara keraguan. Ia tidak perlu berteriak untuk melawan, tidak perlu pedang untuk menang. Ia hanya perlu menerima bahwa bisikan itu mungkin tidak akan pergi, tapi ia bisa memilih untuk tidak mendengarkannya.
Anak kecil itu menghela napas, menatap bayangannya di kaca. Tidak, ia tidak akan kalah hari ini. Tidak besok. Tidak selamanya.
Dan anak kecil yang kuceritakan itu adalah aku.
Anak kecil yang tumbuh dengan banyak ketakutan, tetapi perlahan belajar bahwa tidak semua suara dalam kepalanya layak dipercaya. Anak kecil yang dulu gemetar dalam diam, tetapi kini mulai berani berdiri. Anak kecil yang masih berperang, tetapi kini tahu bahwa ia tidak harus kalah.
Komentar
Posting Komentar