Merangkul Perih Menjemput Fajar

 Aku menatap bayanganku di cermin, seonggok diri yang kuyup oleh kenangan, rapuh oleh ingatan yang tak kunjung sirna. Mataku redup, seakan cahaya enggan bernaung di sana. Nafasku berat, tersendat oleh beban yang tak kasat mata, namun begitu nyata mencengkeram dada.  


Aku ingin bertanya pada Tuhan, mengapa semua ini kembali? Mengapa masa kecil yang kupikir telah kutinggalkan justru mengejarku, merangkulku dengan dinginnya luka yang tak pernah benar-benar sembuh? Aku mencoba menguburnya, tapi ia tumbuh seperti akar liar, menyusup ke dalam hatiku, melilit erat tanpa ampun.  


Hari-hari terasa seperti perjalanan melewati lorong yang dipenuhi bayang-bayang samar. Aku berjalan, tetapi langkahku terseret oleh ingatan yang enggan pergi. Setiap sudut pikiranku adalah jendela yang terbuka lebar, menampilkan potongan-potongan cerita yang ingin kulupakan, tangis yang disembunyikan, ketakutan yang dipendam, kehilangan yang terlalu dini. Semua kembali dalam arus yang deras, menghantam tembok yang susah payah kubangun.  


Aku lelah, Tuhan. Lelah menambal kepingan hatiku yang terus retak, lelah berpura-pura baik-baik saja ketika di dalam, aku hampir tenggelam. Jika luka ini adalah ujian, kapan akhirnya? Jika kesedihan ini bagian dari rencana-Mu, di mana ujung dari jalan terjal ini?  


Tapi, di tengah pekatnya malam, ada sesuatu yang masih membuatku bertahan. Mungkin harapan kecil yang menggeliat di sudut jiwaku. Mungkin keyakinan bahwa Kau tidak akan membiarkanku tenggelam di lautan luka ini.  


Maka, biarkan aku merangkul perih ini, bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan. Biarkan waktu membalut luka-luka lama, seperti fajar yang tak pernah ingkar pada janji terbitnya. Dan kelak, ketika semuanya mereda, aku akan berdiri di tepi ingatan, menatap kepingan hatiku yang pernah hancur, lalu berbisik pada diri sendiri, Aku telah melewati badai, dan aku masih di sini lebih kuat dari sebelumnya.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer