Dia, Ketenangan yang Tak Bernama
Ada seseorang yang tak kusangka, hadirnya seperti senja yang pulang tanpa gaduh. Ia tidak mengisi ruang dengan kata-kata, tetapi dengan keberadaannya saja, dunia terasa lebih ringan.
Ia seperti hujan di musim kemarau datang tanpa janji, tetapi selalu dinanti. Bicaranya tenang, seperti angin yang berbisik pada pepohonan, seperti ombak yang mencium pasir tanpa ingin pergi. Aku pernah bertanya-tanya, bagaimana caranya seseorang bisa membawa damai tanpa banyak berkata-kata?
Tatapannya teduh, menenangkan lebih dari sekadar doa-doa malam. Seakan dalam dirinya ada ruang luas tempat aku bisa meletakkan resah tanpa takut kehilangan. Aku menyimpan namanya di antara doa-doa yang tak pernah kugumamkan keras-keras, sebab mungkin, di dunia ini, ada cinta yang cukup hanya untuk dirasakan, tidak untuk dimiliki.
Ia tidak selalu hadir dalam bentuk nyata, tetapi seperti bayang-bayang yang mengikuti langkahku dalam diam. Ada namanya di setiap sunyi, ada sosoknya dalam setiap rindu yang tidak bisa kusampaikan. Aku sering bertanya, apakah ia tahu bahwa kehadirannya adalah tempat paling aman bagiku? Bahwa dalam suaranya yang datar, ada nada yang bisa menenangkan segala riuh dalam kepala?
Aku ingin mengungkapkan, tetapi bagaimana jika keindahan ini hanya akan pudar saat diterjemahkan dalam kata-kata? Bagaimana jika ketenangan yang ia beri justru luruh ketika aku berusaha menggenggamnya? Maka, biarlah ia tetap menjadi misteri yang kusyukuri dalam diam, seperti senja yang selalu kembali, seperti ombak yang tak pernah lelah mencumbu pantai, seperti namanya yang selalu kusebut tanpa suara di dalam hati.
Komentar
Posting Komentar