Rumah yang Kehilangan Penunggunya

 Kepergian seseorang yang kita cintai selalu meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Apalagi jika sosok itu adalah tempat bercerita, pelukan hangat, dan kenangan masa kecil yang tak tergantikan. Itulah yang aku rasakan pada pagi Selasa, 27 Mei lalu, ketika kabar duka itu datang tanpa peringatan.


Pagi itu aku bangun dengan rencana sederhana: pergi ke kampus untuk mendukung teman yang sedang seminar proposal. Tapi satu pesan singkat di layar ponsel mengubah segalanya.


"Kakekmu sedang dibacakan Yasin."


Dunia runtuh dalam sekejap. Aku tidak bisa menahan air mata yang langsung meledak tanpa aba-aba. Tangan gemetar, napas berat, dan dadaku seperti dirobek dari dalam. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk pulang ke Lombok Timur sendirian. Bukan karena berani, tapi karena cinta yang begitu dalam pada sosok yang sedang berpamitan dengan dunia.


Perjalanan pulang menjadi ziarah pertama sebelum kepergian itu benar-benar nyata. Aku menyetir motor dengan air mata yang jatuh tiada henti. Di sepanjang jalan, aku hanya ingin cepat sampai. Ingin melihat wajahnya. Ingin memastikan bahwa ini bukan kenyataan yang harus kuterima.


Beberapa orang menyapa saat melihatku menangis di pinggir jalan, namun lidahku kelu. Yang keluar hanya tangis dan gelengan pelan. Seolah jika aku bicara, aku akan benar-benar runtuh. Yang ada di pikiranku hanya satu: aku harus pulang. Harus bertemu kakek. Harus memeluknya, walau hanya sekali lagi.


Dan ketika aku sampai di Kotaraja, rumah yang selama ini penuh tawa, kini seperti kehilangan jiwanya. Bendera kuning berdiri di depan rumah. Motor dan mobil memenuhi halaman. Suara pelan bacaan doa terdengar samar. Tapi semua seperti senyap di telingaku.


Aku limbung, jatuh di halaman rumah, lalu dipeluk ibu. Ia membawaku masuk ke dalam.


Di sana... kakek terbaring diam.


Wajah yang biasa menyambutku pulang, kini beku dalam damai. Tubuh yang dulu menggandengku menyusuri halaman rumah, kini terbujur dalam keheningan. Aku duduk di sampingnya, menatap lekat wajahnya, menyentuh pipinya, berusaha merekam detik demi detik kenangan yang masih sempat kutangkap.


Tangisku pecah lagi saat aku membaca Yasin di sampingnya. Ayat-ayat suci tersendat oleh isak yang tak bisa ditahan. Tanganku menggenggam erat kain yang menutupi tubuhnya, seolah aku masih bisa menariknya kembali ke dunia.


Saat memandikan jenazahnya, aku diminta menyiram air ke tubuh kakek. Tanganku gemetar. Air yang mengalir bukan sekadar ritual perpisahan, tapi juga tetes kehilangan. Aku menjerit pelan, tubuhku bergetar oleh tangis yang pecah, seolah jiwaku ikut luruh bersama air yang membasahi tubuh beliau.


Dan ketika kain kafan membungkusnya, aku tahu... ini sungguh-sungguh perpisahan.


Aku ikut mengantarkan kakek ke peristirahatan terakhir. Langkah demi langkah menuju pemakaman terasa seperti melangkah dalam mimpi yang buruk. Matahari terik, tapi dadaku dingin. Heningnya suasana hanya ditandingi oleh riuhnya air mata di dalam hati.


Ketika tanah mulai menutup tubuhnya, aku ingin ikut masuk ke sana. Ingin menghapus jarak yang kini memisahkan kami. Ingin kembali ke masa kecil, duduk di pangkuannya sambil mendengarkan cerita. Tapi waktu tak bisa ditarik, dan kakek sudah kembali ke pangkuan Ilahi.


Rumah kini hanya bangunan. Teras yang dulu hangat, kini terasa beku. Tak ada lagi suara memanggil namaku dengan lembut. Tak ada lagi senyum tua yang menyambutku pulang. Yang tersisa hanyalah kenangan sepotong baju terakhir, gelas kopi yang tak sempat dicuci, dan ruang kosong yang tak bisa diisi ulang.


Namun dari semua luka dan kehilangan itu, aku belajar bahwa duka adalah bentuk cinta yang tidak menemukan tempat pulang. Aku belajar berjalan dengan bayangannya di belakangku, dan dengan kenangan sebagai lentera di setiap malam yang sunyi.


Kini, aku tahu… kehilangan bukan soal kepergian, melainkan soal bagaimana kita belajar hidup tanpa seseorang yang dulunya adalah bagian dari napas kita.


Dan dalam sujud paling lirihku, dalam malam yang penuh rindu, aku sering berkata dalam hati:


"Jika rinduku telah melampaui batas waktu, dan air mataku tak lagi bisa menjelaskan luka, bawalah aku bersamamu, walau hanya dalam mimpi. Agar malamku tak lagi begitu sunyi, dan hidupku tak terlalu sepi."


Kakek, tenanglah di sana.

Doa cucumu akan terus mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.

Dan jika suatu malam kau sempat menoleh ke bumi, pandanglah aku sebentar, cucu perempuanmu yang kini sedang belajar hidup... tanpa kakek lagi di dunia ini.


Komentar

Postingan Populer