Rumah dalam Senyumannya
Ini pertama kalinya aku menulis tentang jatuh cinta. Biasanya tulisanku dipenuhi cerita tentang luka dan kecewa, namun kali ini hatiku memilih kata-kata yang berbeda. Kata-kata tentang dia, seseorang yang begitu istimewa, pemilik senyum manis yang selalu membuatku merasa pulang.
Senyumnya sederhana, tidak megah, tidak dibuat-buat. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Senyum itu bisa meredakan badai kecil dalam diriku, mengubah resah menjadi tenang. Tatapannya menambah damai, seolah aku menemukan ruang aman dalam dirinya.
Ia sabar menghadapi aku yang mudah emosi. Ia menenangkan tanpa harus banyak bicara. Perhatian kecil darinya selalu membuatku merasa berarti. Ada caranya sendiri membuatku jatuh cinta lagi dan lagi, hingga aku tak pernah ingin jauh darinya.
Kadang ia sedikit tengil, dengan tingkahnya yang membuatku gemas sendiri. Namun justru dari situlah aku semakin jatuh cinta. Tengilnya tidak pernah membuatku kesal terlalu lama, malah menjadi bumbu yang mewarnai kebersamaan kami.
Momen-momen bahagia itu begitu membekas. Malam ketika kami berkeliling dengan motor, membiarkan angin malam menyapu wajah, membuat dunia terasa luas namun tetap hangat karena ada dia di depan. Tawa-tawa kecil, percakapan ringan, bahkan diam yang kami bagi bersama semuanya menjadi bagian dari kebahagiaan sederhana yang selalu kurindukan.
Ia adalah pemilik senyum manis yang kadang berubah menjadi candaan tengil. Ia usil, seolah ingin melihatku mengerutkan dahi hanya untuk kemudian menertawakan tingkahku. Namun justru di situlah keindahannya, ia bisa menjahit kesal menjadi tawa, mengubah kekakuan menjadi hangat.
Tawanya yang pecah saat aku salah bicara, tatapannya yang penuh perhatian meski disembunyikan di balik pura-pura acuh, dan caranya membuat dunia terasa ringan hanya dengan hadir di dekatku, semua itu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi.
Bahagia ternyata sesederhana duduk di sampingnya, mendengar kalimat tengil yang kadang membuatku ingin marah, tetapi pada akhirnya hanya membuatku semakin mencintainya. Aku jatuh cinta padanya bukan karena sesuatu yang besar, tapi karena dirinya sendiri. Dan bagiku, itulah alasan terindah. Sebab senyum manisnya sudah cukup untuk kusebut sebagai rumah bagi perasaanku.
Mungkin dia orang nya tengil yah kak, tapi dibalik semua itu kayaknya bukan sifat tengilnya aja yang kakak suka dari dia.
BalasHapus